Ketika bunyi petasan menggema di seantero Kota
Jayapura dan gemerlapan cahaya kembang api menghiasi langit Kota Jayapura
tengah malam ini menyambut tahun baru 2016, melintas dalam pikiran saya:
andaikan sekarang ini tiba-tiba dunia khiamat. Saya membayangkan pasti banyak
orang yang tidak siap untuk menghadapinya. Yang jelas, tidak ada yang abadi di
dunia ini, sebab yang abadi hanyalah perubahan. Semuanya akan berubah dengan
cara dan wujudnya sendiri pada waktunya.
Salah satu perubahan paling fundamental yang
merupakan takdir yang tidak dapat dihentikan adalah kematian. Kematian dalam
konteks personal adalah “khimat pribadi”, yaitu masing-masing orang mengakhiri
masa hidupnya di dunia dan menuju akhirat (entah surga atau neraka). Tetapi
khiamat juga dapat terjadi (sesuai dengan ajaran agama dan kebudayaan tertentu)
dalam konteks global, yaitu kematian bumi dan/atau alam semesta, yang tentu
saja otomatis mengkhiamatkan segala isi bumi termasuk manusia. Ketika dua
perubahan (kematian) itu terjadi, tak seorang pun yang dapat menghentikannya.
Apakah kita sudah siap untuk menghadapi perubahan
(kematian) itu? Tergantung masing-masing orang. Banyak orang selalu siap untuk
menghadapi khiamat pribadi dan khiamat global. Tetapi lebih banyak orang justru
tidak siap untuk menghadapinya. Ini adalah pilihan hidup, tergantung siapa
hendak memilih apa.
Pergantian tahun setiap tahun hendaknya dijadikan
momentum untuk memperbarui diri dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi
takdir kematian pribadi dan global. Harus disadari bahwa makin bertambah tahun,
maka makin dekatlah waktu kematian pribadi dan global. Karena itu, sebaiknya
makin sadarlah kita untuk menghadapinya. Caranya sederhana saja, yakni dengan
hidup baru; kurangilah atau hindarilah dosa, perbanyaklah atau lakukanlah
kebaikan dan kebenaran. Dengan begitu, setelah mengakhiri hidup di dunia fana
ini, kita akan menyambung hidup baru di Nirwana bersama Sang Khalik Yang Agung
dalam keabadiannya.
By:Odiyaipai


Online
Hari ini
Total

0 komentar:
Posting Komentar