”Kalau saya
mati, saya pasti masuk sorga. Tetapi kalau saya lihat orang Indonesia di sana
biar satu orang saja, saya akan lari tinggalkan sorga. Kalau malaikat Tuhan
tanya saya mengapa lari, nanti saya jawab, ah saya takut orang Indonesia
menjajah kami orang Papua di sorga juga.” (Theys Hiyo Eluay, Ketua Presidium
Dewan Papua).
“Enyahkan
kami, agar kalian bisa mengambil dan menguasai semua yang kami miliki: tanah
kami, gunung kami dan setiap penggal sumber daya kami. Pegang parang ini, ambil
dan bunuh saya, sebab saya sudah tidak tahan lagi melihat masalah-masalah yang
menyakitkan ini.” (Tuarek Narkime, Kepala Suku Amungme).
Dua
pernyataan yang dikemukakan oleh kedua pemimpin rakyat Papua Barat di atas ini
menggambarkan dua bentuk penjajahan yang menimpah rakyat Papua Barat.
Pernyataan Theys mewakili aksi Neo-kolonialisme Negara Indonesia, sementara
pernyataan Tuarek mewakili aksi Neo-liberalisme Negara-negara kapitalis. Yang
jelas, Neo-kolonialisme Negara Indonesia dan Neo-liberalisme Negara-negara
Kapitalis sama-sama menjajah rakyat Papua Barat. Theys maupun Tuarek sebagai
pemimpin rakyat Papua Barat sangat menyadari bahwa dirinya dan rakyatnya
benar-benar terjajah oleh kedua bentuk penjajahan tersebut. Mereka juga sadar
bahwa dalam aksinya, kedua bentuk penjajahan tersebut diperkuat oleh militer.
Pendidikan
politik lewat pengalaman hidup rakyat Papua Barat telah mengajarkan dan
menyadarkan mereka untuk mengenal musuh mereka, yaitu pihak yang telah, sedang
dan akan terus mejajah. Mereka dengan jelas – sebagaimana tergambar dalam
pernyataan Theys dan Tuarek – memetahkan pihak-pihak yang menjajah mereka.
Telah terbangun pemahaman bersama bahwa yang telah, sedang dan akan menjajah
Papua Barat adalah Negara Indonesia dan Negara-negara Kapitalis, yang didukung
dengan kekuatan militer.
Negara
Indonesia mempunyai kepentingan ”integrasi bangsa” atas wilayah Papua Barat.
Sedangkan Negara-negara Kapitalis mempunyai kepentingan ”cari makan” atas
wilayah Papua Barat. Dan keduanya diperkuat oleh militer sebagai ”penjaga
integrasi” dan – meminjam istilah Richard Robison – ”anjing penjaga lalulintas
modal”.
Pemekaran
Kabupaten Dogiyai, baik pewacanaan hingga perjuangan realisasi yang berujung
dan pro dan kontra pun tidak lepas dari fenomena politik dan ekonomi. Fenomena
tersebut semakin menarik untuk dikaji, apalagi jika hal itu terjadi di wilayah
Papua Barat. Soalnya, wilayah ini boleh dikatakan sebuah sebuah ”lahan
pertarungan” berbagai kepentingan. Di satu sisi orang Melanesia di wilayah ini
”susah-payah” mempertahankan tanah seluhur dan hidupnya, sementara di sisi lain
para ”penjajah” merajalela di atas tanah dan di tengah orang Melanesia
tersebut. Hal itu menyebabkan rakyat Papua Barat terus berjuang untuk merdeka
dari penjajahan Negara Neo-kolonialis Indonesia dan Kapitalis Internasional.
Selain karena
takut dengan adanya kepentingan politik dan ekonomo Negara Indonesia dan
Kapitalis Internasional, buku dengan gaya bahasa subyektif ini saya tulis
karena muak dengan beberapa alasan, yaitu; adanya kepentingan politik dan
ekonomi para elit politik lokal Indonesia (elit politik asal Lembah Kamuu dan
Pegunungan Mapiha/Mapisa), adanya sikap dan tindakan yang busuk (amoral) dari
Tim Sukses Pemekaran Kabupaten Dogiyai, adanya sikap dan tindakan kelompok kontra
Pemekaran Kabupaten Dogiyai yang cenderung hanyut dalam ”angin politik”, adanya
tuduhan menerima Pemekaran Kabupaten Dogiyai oleh kelompok kontra Pemekaran
Kabupaten Dogiyai di tanah Jawa kepada diri saya (yang ditandai dengan tuduhan
menerima ”uang sogok” dari kelompok pro Pemekaran Kabupaten Dogiyai), dan
adanya caci-maki dan pengkhianatan secara ”kekeluargaan” terhadap diri saya
karena masalah Pemekaran Kabupaten Dogiyai.
Semuanya
pihak inilah yang saya gugat dalam buku ini, yang boleh dikatakan sebagai
sebuah buku pembelaan terhadap diri saya secara prbadi, keluarga, kelompok
(sebagai bagian orang Lembah Kamuu dan Pegunungan Mapiha/Mapisa), warga bangsa
dan/atau Negara Papua Barat, sebagai orang yang kebetulan berkewarga-negaraan
Indonesia (untuk sementara), dan sebagai bagian dari manusia semesta. Saya
menempatkan posisi saya dalam kedudukan seperi itu, karena kedudukan itu sebuah
kenyataan yang tidak dapat saya sangkal dengan cara apapun.
Karena itu,
saya berharap mereka yang saya ”tembak” dalam buku ini, baik yang saya sebutkan
namanya secara terus-terang, disebutkan secara kelompok, atau sebagai bangsa
dan/atau negara, disinggung secara ideologi, atau dengan cara apa saja agar
dapat menerima buku ini dengan rasinonal. Saya yakin, pasti banyak pihak yang
tidak akan menerima isi buku ini, dan bahkan akan merasa nama baiknya
dicemarkan, tetapi bagi saya itu tidak penting. Karena yang penting adalah
menjaga nama baik mereka yang terjajah secara ekonomi dan politik, mereka yang
hidup dan masa depannya dimusnahkan, dan mereka yang tak berdaya di atas tanah
airnya sendiri karena kehilangan kemerdekaan (pribadi dan kebangsan). Dalam
situasi demikian, saya berada di pihak mereka yang ”terjajah” ini, karena
kanyataannya memang demikian”.
Dengan modal
dan kekuatan suara hati nurani saya yang selalu berbisik bahwa ”penjajahan
harus dihapuskan” dan ”orang terjajah harus dibela”, maka saya merasa berani
untuk menulis uku ini, bahkan saya berhasil menyelesaikan penulisannya dalam
waktu tiga hari. Kalau memang saya harus mempertanggung jawabkan isi buku ini,
entah dengan cara digugat ke pengadilan, dicaci-maki, dimusuhi, dicap sebagai
”separatis” atau ”anti-pembangunan” atau cap apa saja, diteror dan
diintimidasi, bahkan sampai harus dibunuh, saya sudah siap untuk menerimanya.
Ini reriko dari berkata dan berbuat tentang ”kebenaran” yang mutlak, yaitu
keberan yang berasal dari Sang Pencipta.
Ingin saya
tegaskan bahwa, buku ini saya tulis bukan untuk mendukung atau menolak
Pemekaran Kabupaten Dogiyai, bukan pula untuk memaksa orang untuk menerima atau
menolaknya. Bagi saya, menerima atau menolak pemekaran tersebut adalah urusan
rakyat sesuai dengan hati nuraninya, karena kedaulatan ada di tengan mereka.
Buku ini juga saya tulis tanpa mewakili siapa-siapa; entah keluarga, kelompok
pro dan kelompok kontra Pemekaran Kabupaten Dogiyai, atau yang lainnya, tetapi
karena merasa mempunyai tanggungjawab secara pribadi sebagai manusia yang ingin
merdeka (secara pribadi maupun bangsa).
Akhirnya,
saya siap menerima semua bentuk kritik dan saran atas penulisan buku. Bagi saya
kiritik dan saran adalah bagian dari ”bunga-bunga” demokrasi yang sesungguhnya,
yaitu saling mendengarkan dan memahami dengan tulus, kemudian melaksanakan
berdasarkan nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran yang sesungguhnya pula.
BY:Odiyaiwuu


Online
Hari ini
Total

0 komentar:
Posting Komentar